news today 

Cultural Visit Media Gathering 2018 PT Djarum (3/Habis)

Bakti Pada Negeri merupakan semboyan Djarum Foundation. Yayasan milik PT Djarum ini mempunyai beberapa program bakti, di antaranya Bakti Sosial, Pendidikan, Olahraga, Lingkungan, dan Bakti Budaya.

Agen Bandarq

Cultural Visit Media Gathering 2018 PT Djarum yang berlangsung dari Minggu (8/7) hingga Kamis (12/7) dan diikuti kurang lebih 105 jurnalis, yang salahsatu reporter Metro Tabagsel Samman Siahaan, masih berlanjut. Kali ini peserta diajak menyaksikan beberapa program bakti Djarum Foundation. Namun lebih fokus pada Bakti Olahraga dan Pendidikan.

Pada Program Lingkungan, saat mengunjungi Komplek Djarum Oasis Kretek Factory, peserta diperlihatkan kawasan pembibitan, taman dan budidaya bunga yang disebut 40 persen dari luas seluruh komplek.

Sedangkan untuk Budaya, peserta diperkenalkan dengan sambutan Tari Kretek dan jamuan sejumlah kuliner khas Kudus seperti Sate Kebo, Lentog Kudus, Nasi Pindang dan Pecel Pakis Colo di salahsatu gedung di kawasan itu.

Lebih jauh pada Program Bakti Pendidikan, telah dimulai sejak tahun 1963 silam. Pada tahun 2011, program ini mulai fokus pada peningkatan Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Kudus, demi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang andal dan siap menuju dunia industri.

KLICK TULISAN MIRING DI SAMPING INI UNTUK MASUK KEDALAM SITUS JUDI POKER ONLINE TERPERCAYA CROWNQQ  :  AGEN BANDARQ

Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Primadi H Serad menerangkan, saat ini ada 15 dari 29 SMK baik negeri maupun swasta di Kudus yang dibina dan didukung Djarum Foundation. Dan sebanyak 18 Jurusan yang telah ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan industri.

Jurusan yang dimaksud di antaranya Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Mesin, Kelautan, Rekayasa Perangkat Lunak, Animasi, Seni Kuliner, Desain Fashion, Komunikasi Visual, Studi Bahari, Perancangan Arsitektur, Kimia Industri, Pemasaran Perhotelan, Pengelasan, Terapi Kecantikan dan Spa, Perabotan dan Pertukangan, Geomatika serta Pertanian.

“Yang kami siapkan pengembangan kurikulum belajar dari 12 jurusan yang sudah tersedia. Termasuk dengan pelatihan guru yang saat ini sebanyak 322 Guru serta menyediakan sebanyak 4.039 peralatan pendukung belajarnya,” terangnya mencontohkan kurikulum di jurusan Fashion yang umumnya 3 tahun ajaran hanya belajar menjahit. Maka dengan perbaikan kurikulum, pada tahun pertama, diajarkan desain, tahun kedua menjahit dan tahun akhir tinggal cara pemasaran.

Selanjutnya, di sini guru harus terlebih dahulu dilatih dan memiliki sertifikasi dari industri sesuai kejuruan yang diajarkannya. Proses belajar juga harus memiliki sarana yang mendukung, meliputi peralatan dan perlengkapan belajar, hingga ruang kelas yang tidak membuat siswa stres dan jenuh.

Sebagai contoh, dari layar infokus Permadi mempertunjukan ruang belajar di SMK Wisudha Karya dengan jurusan Kelautan atau Bahari. Yang menarik, Kabupaten Kudus memang tidak memiliki laut, namun dengan dukungan sarana Full Mission Bridge Simulator (FMBS) yang diakui secara internasional, maka siswa bisa praktik berlayar mengarungi lautan dengan simulator.

“Mengatur ruang kelas sedemikian rupa. Maka tinggal kenyamanan mereka belajar, komunikasi, kolaborasi antara siswa. Tidak boleh diam, memang harus bicara, diskusi sama guru sama temannya,” timpal Post Graduate Diploma dari Universitas Harvard itu.

Jadi, program pembinaan SMK ini meliputi proses pengembangan kurikulum, pelatihan guru dan sarana-prasarana belajar yang mendukung. Selanjutnya, akan ada beasiswa lanjutan bagi siswa yang berprestasi dengan belajar sekaligus bekerja secara langsung di ruang kelas untuk kebutuhan industri sesuai kejuruan, di mana siswa tersebut sudah bisa mendapat penghasilan. Atau mengikuti kegiatan bersifat Internasional.

Salahsatu di antaranya ada cerita Afifah Ramadani yang merupakan siswa jurusan Kuliner di SMK Negeri 1 Kudus, anak seorang tukang parkir dan tukang cuci. Dia salahsatu pelajar yang menguasai 30 ikon kuliner Indonesia, dan telah memperkenalkan berbagai kuliner tradisional Indonesia ke berbagai negara, seperti Qatar, Jerman dan Jepang.

“Dia waktu itu melatih 1.000 anak-anak dalam acara Franfurteer Buchmesse untuk Kuliner. Mereka (Siswa) harus mandiri jadi kelas Internasional, mereka kita latih untuk jualan. Ada juga cerita Risa Maharani siswa di SMK NU Banat yang sudah mengikuti fashion show di Hongkong. Kami tidak ingin mereka bertahan disitu saja, harus berkembang. Bukan saja hard skill, soft skill-nya juga sudah harus dipersiapkan,” pungkas Permadi mencontoh perkembangan yang dimaksud pada jurusan teknik mesin, mulai operator menuju mekanis hingga insinyur.

Terakhir, para peserta Cultural Visit berkesempatan mengunjungi SMK Animasi Raden Umar Said di Jalan Sukun Raya, Kudus yang didukung Djarum Foundation. SMK ini memiliki lima jurusan, diantaranya Desain Grafika, Produksi Grafika, Desain Komunikasi Visual (DKV), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) dan Animasi.

Menilik ruang belajarnya di lantai pertama, para siswa di jurusan Animasi tampak sangat sibuk namun santai. Memang, mereka saat itu tengah mengerjakan proyek animasi salahsatu perusahaan besar di Indonesia. Begitu juga di ruang yang lainnya, sibuk pada pengerjaan film animasi. Demikianlah sekolah ini, selalu padat permintaan proyek pembuatan animasi.
Bermaksud tak mengganggu, penulis pun berfokus pada jurusan RPL dan DKV. Di ruang RPL, ada dua siswa; Anjas dan Naufal yang masih mengisi berbagai ornamen pada rekayasa ruangan yang mereka buat. Rekayasa itu nantinya akan tersambung pada perangkat Virtual Reality (VR).

Kendati penasaran, penulis mencoba mengenakan VR tersebut yang juga tersambung pada earphone. Mulanya terlihat samar, namun terdengar jelas suara gesekan, dan bunyi musik gamelan serta tangisan anak-anak. Ternyata ada perangkat lainnya yang cara mengenakannya yakni digenggam. Keduanya berfungsi sebagai pemantik dan lilin.

Lilin menyala, suasana mulai terlihat jelas. Yang ada ruangan kamar, dan ternyata sedang terjebak di Rumah Hantu. Lalu diperintahkan mencari jalan keluar. Di sudut kamar, ada lemari. Katanya disitu ada kunci pintu keluar. Namun betapa kagetnya, saat berbalik badan, secara tiba-tiba sesosok mahluk yang tidak jelas rupanya menerpa hingga Penulis pun dengan lekas melepaskan alat itu.

Di sudut kelas yang sama, ada juga fasilitas sejenis, namun rekayasa yang tersedia berupa wahana permainan sejenis Roller Coaster. Beberapa peserta Cultural Visit terlihat secara bergantian menikmati permianan buatan anak-anak SMK ini. bahkan ada yang berteriak lantaran merasa geli dengan sensasi ketinggian rekayasa itu.

Ruang belajar yang unik, sarana praktek yang memadai dan suasana yang nyaman pantas membuat siswa disini merasa betah. Bahkan kata Tarisa Dwi Safitri, kelas XII jurusan DKV, terasa tak ingin lulus dari sekolah itu. Alasannya, dengan fasilitas yang ada, bisa membuat gambar desain editing yang sangat bagus.

“Saya lebih minat di duni desan photography Pak. Lebih seru bagi saya, bisa explore mengombinasi suatu goresan cahaya,” kata bungsu dari dua bersaudara yang juga meminati Digital Imaging itu. Tarisa juga katanya sudah bisa membuat penghasilan sendiri dari teknik fotografinya. DKV juga memang memiliki beberapa studio praktek, salahsatunya studio fotografi.

Dengan kerjasama yang dibangun Djarum Foundation dengan berbagai perusahaan-perusahaan termasuk BUMN dan perusahaan multinasional. Maka, bakat dan keahlian dari lulusan SMK ini lebih mudah tersalurkan. Demikian, sebagai Bakti Pendidikan, Djarum Foundation lebih mengutamakan anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kudus untuk memasuki SMK-SMK yang mereka dukung

Related posts

Leave a Comment